sedang mengalami gangguan emosional dan merasa sering buntu untuk berpikir kreatif?kamu ga sendirian

Pada hari Minggu, tanggal 22 Juli 2018 adalah hari yang saya tunggu-tunggu, bagaimana tidak, sebuah discuss sharing dengan tema “Gangguan Emosional dan Kebuntuan Kreatif” dilaksanakan di Tobucil Jl. Panaitan 18 Bandung dengan pengisi materi R.E. Hartanto (Tanto) seorang perupa, dosen, penulis  dan Doktor Afra Hafny Noer seorang dosen Fakultas Psikologi di Universitas Padjadjaran Bandung.

Yang menarik di acara ini adalah meninjau permasalahan tersebut dari 2 sudut pandang, yaitu sudut pandang sebagai pelaku seni/pure dari masalah kreatifitas dan sudut pandang emosional/psikologi.

Sebelum acara ini berlangsung, kita diajak untuk curhat/bercerita tentang masalah berkaitan dengan tema/bertanya melalui form yang didapat dari blog R.E. Hartanto (Tanto), maka saat hari H, acara langsung diisi dengan pembahasan masalah yang sudah dikategorikan/dirangkum pada beberapa poin masalah yang sering dihadapi seorang pelaku seni yang sebelumnya sudah diterima di blog tersebut, setidaknya ini beberapa poin yang sempat saya catat di jurnal pribadi saya 🙂

1. Mood

Dari segi emosional, yang sering menjadi sumber masalah kita untuk berkarya adalah naik turunnya mood. Mood kadang  muncul secara acak, datang ide sesaat ketika kita sudah siap tidur di kasur, ide kadang muncul ketika kita sedang nongkrong di toilet, atau ada yang moodnya sudah terbaca pola munculnya ketika jam-jam tertentu. Yang menjadi masalah adalah ketika mood tak kian datang sedangkan deadline sudah semakin dekat, hayoooh ngaku siapa yang sering berada di kondisi seperti ini?

2. Pikiran negatif

Merupakan pikiran-pikiran negatif yang kerap muncul di otak kita dan menjadi kurator terjahat untuk karya kita sendiri. Jujur ini merupakan masalah yang sering saya jumpai, secara saya orang nya sering menjadi sceptik hehehe. Pikiran negatif yang sering dijumpai adalah “Apa yang akan dikatakan teman-teman saya (yang kebanyakan desainer/pelaku seni) terhadap karya saya” atau “Apaan ini?karya sampah, saya hanya buang-buang waktu dan uang saja” atau “Saya tidak mampu dan gagal mewujudkan ide-ide gila saya pada karya saya yang ini”, begitulah contoh beberapa kalimat yang dicontohkan pemateri untuk kasus ini.

3. Faktor eksternal

Faktor eksternal yang dibahas kali ini adalah faktor dukungan orang terdekat seperti keluarga, teman permainan, atau pasangan tentang apa yang kita lakukan sebagai pelaku seni. Tidak sedikit orang yang tidak mendapatkan dukungan dari pihak terdekat padahal itu merupakan sesuatu yang dianggapnya paling penting. Ketika seorang pelaku seni lahir dari keluarga yang sama sekali tidak mengerti/memahami seni. Ketika teman dekat tidak mengerti apa yang kita lakukan merupakan sebuah proses kita untuk berkarya, dan lain-lain, sebenarnya banyak sekali faktor eksternal yang dapat menghambat kita untuk berkarya, tetapi itu yang paling sering ditemukan dari ‘curhatan’ pada form yang sebelumnya sudah dikumpulkan.

4. Ciri khas karya

Ciri khas dalam berkarya yang dimaksud di sini adalah identitas dalam berkarya, seperti sudah ada kebanggan tersendiri sebagai seorang pelaku seni apabila karya nya sudah memiliki ciri khas yang menjadi pembeda karya nya dengan yang lain, tapi apa yang terjadi ketika sudah bertahun-tahun berkarya tetapi kita belum menemukan ciri khas kita? atau mungkin kita sudah menganggap punya ciri khas tetapi tiba-tiba bosan dengan apa yang kita kerjakan dan rasanya ingin mengerjakan hal lain/dengan teknik lain yang jauh dari ciri khas karya kita.

5. Seni kreatif sebagai sumber rezeki

Berkaitan dengan faktor eksternal, sering kali banyak yang masih menyangsikan profesi sebagai pelaku seni kreatif sebagai sumber mencari rezeki. Apalagi seseorang pelaku seni kreatif pemula yang baru akan memulai karirnya di dunia ini yang lahir dari keluarga yang dari jaman dahulu kalanya berprofesi sebagai karyawan suatu instansi atau pegawai pemerintahan, sudah barang tentu faktor ini bisa menjadi suatu hambatan dalam berkarya, karena adanya penyangsian mengenai apa yang dikerjakan dapat menghasilkan uang.

Setelah memaparkan beberapa persoalan yang sering dijumpai tadi dengan segala pembahasannya, pemateri menyodorkan terori ilmiah dan sharing pengalaman pribadinya  berkenaan dengan persoalan tersebut. Terlepas dari itu, tidak jarang ketika kita bertanya loh ini karya kita munculnya kapan ya? kadang kita berfikir ini ide/karya munculnya tiba-tiba saja kok. Nah sebenarnya itu tidak datang tiba-tiba, dan semua gangguan emosional serta kebuntuan dalam berkreatifitas dapat kita olah lalu kita respon sehingga kita bisa mengendalikannya.

Banyak sekali yang beranggapan bahwa deadline merupakan penghambat terbesar kita dalam mengksplorasi karya, dan ternyata anggapan itu tidak  sepenuhnya betul, karena ternyata deadline bisa berperan sebagai pemicu kita untuk berkarya, dan terbukti pada saya yang baru terjun di dunia kreaftif dengan mandiri tanpa terikat kontrak atau tuntutan dari pihak luar, deadline adalah pembangkit semangat saya untuk membuat schedule dan memperjelas tahapan-tahapan yang harus saya lakukan. Karena tanpa deadline saya akan kebablasan tidak mengerjakan apa-apa dan santai kaya di pantai 😀 . Dan deadline pula lah yang mengajarkan kita untuk mengatur mood, atau dalam kata lain “memaksakan mood“. Bagi yang sudah berhasil mengidentifikasi “waktu mana sih yang pasti saya punya mood” atau “susasana apa sih yang harus saya ciptakan supaya saya mood”, itu akan lebih mudah mendatangkan mood, hanya tinggal menjalaninya dan berkarya dengan menghadirkan suasana dan mencari waktu tersebut. Bagi yang belum berhasil menemukan faktor apa yang dapat membangkitkan mood, nah ini menjadi PR kamu untuk mencarinya, kamu harus mencari ritme kegiatan yang mendatangkan mood, coba dirunut dan diidentifikasi dengan menganalisa proses berkarya kamu pada karya kamu sebelumnya, apa sih yang bisa bikin mood dan menghasilkan karya tersebut dan keren. Untuk membantu kamu dalam mengidentifikasi kasus ini Doktor Afra Hafny Noer mengajak kita untuk mengobservasi diri sendiri diakhir sesi acara, dan selanjutnya pun saya akan membahasnya di postingan saya selanjutnya.

Penasaran kan pertanyaan apa saja yang harus kita renungkan untuk menyelesaikan persoalan ini, dan apa pembahasan selanjutnya mengenai faktor yang sebelumnya saya sampaikan sebagai penghambat seorang pelaku seni kreatif berkarya, tetap membaca yaaaa 😀

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *