gangguan emosional dan kebuntuan kreativitas bisa dikendalikan kok

Mbak Tarlen pemilik Tobucil sore itu sharing bagaimana cara beliau mengenali dirinya sendiri, sehingga dapat mempermudah dalam proses mengobservasi dirinya. Sejak kecil beliau sangat suka sekali menulis diary, ketika menghadapi suatu masalah beliau mencoba mencari apa sih sebenarnya inti dari permasalahan tersebut. Beliau mengibaratkan buku diary nya mempunyai sebuah nama, lalu di sana beliau menulis dialog 2 arah antara dirinya dengan si buku diary, mungkin kurang lebih begini lah illustrasinya:

si biru : kamu kenapa menangis?

aku : aku sedih

si biru : apa yang membuatmu sedih?

aku : aku diperlakukan tidak menyenangkan oleh salah seorang teman

si biru : dulu kamu pernah diperlakukan sama oleh teman mu yang lain, tapi mengapa kali ini kamu sedih? padahal dulu kamu biasa saja

aku : iya, karena kali ini yang memperlakukannya adalah si dia. dia …. blaa blaa blaa

dst

dst

Kegiatan seperti itu dianggap Mbak Tarlen berhasil untuk menganalisa sebenarnya apa sih inti dari kesedihannya itu, yang ternyata seringkali 20% masalahnya dan 80% adalah dramanya. Bersyukurlah orang-orang yang sudah menemukan cara dan mengenali dirinya sendiri karena seperi apa yang dikatakan Doktor Afra Hafny Noer

“Mengenali diri sendiri adalah hal yang paling sulit”.

Salah satu  faktor yang sering dianggap sebagai penghambat kita berkarya adalah pikiran negatif, apabila dikumpulkan menjadi sebuah sosok, si pikiran negatif adalah sosok yang sudah pasti kita hajar habis-habisan karena dia sudah terus-menerus memojokan, menghina, memandang sebelah mata, membuat kita tidak berguna, dll. Tapi tahukah kamu pikiran negatif itu ternyata faktor yang sangat penting dalam berkarya, apabila tidak ada sama sekali si sosok pikiran negatif dalam diri kita, mau jadi apa karya kita? apabila hanya pikiran positif yang berperan sudah barang tentu kita akan merasa cepat puas dengan karya kita.

“Wahh, warbiasyaaah karya ku emang paling top nget”

Pikiran negatif pun mengajarkan kita untuk survive memanfaatkan atau mengambil kegunaan dari pikiran negatif itu sehingga kita punya standar pribadi yang tinggi untuk karya kita. Dan menurut  R.E. Hartanto, pendapat bagus atau jelek kita terhadap karya kita sendiri muncul karena aksi dan reaksi kita sendiri pada momen itu saja. Berdasarkan pengalaman pribadi, beliau seringkali tidak menyelesaikan kertas kanvasnya yang sudah setengah jalan ia kerjakan, karena pada saat itu beliau merasa karyanya tidak bagus. berulang kali ia lakukan hal tersebut. Ketika suatu saat beliau mereview/melihat kembali karya-karya lamanya yang tidak selesai itu ternyata sekarang beliau pikir karya tersebut tidak ada masalah dan malah banyak yang berpotensi menjadi karya yang besar. Jadi menurut beliau apabila suatu saat kamu ragu akan karya mu sendiri mendingan ‘hajar teruuuus’! (siappp! hajar bleh!)

Faktor yang selanjutnya dapat menjadi penghambat adalah faktor eksternal, yang dibahas pada sore itu adalah peran keluarga mengenai apa yang sedang/ingin kita lakukan sebagai karir kita. Seringkali orang yang lahir dari keluarga yang tidak mengenal/bukan penikmat seni beranggapan bahwa orang yang lahir dari keluarga seni itu enak banget, karena sudah barang tentu didukung oleh keluarga nya dalam berkarya, eitsss… kata siapa? banyak kasus dimana seorang seniman tidak menginginkan anak nya menjadi seniman lagi, kasus dimana seorang pelaku seni musik/seni peran tidak mau diikuti jejaknya oleh anaknya. Yang terpenting pada kasus ini bukan karena siapa anak siapa, tetapi masalah komunikasi, karena hal terbaik dalam menyelesaikan masalah antara individu dengan individu atau individu dengan kelompok adalah adanya komunikasi yang baik.

Kegalauan dalam mengolah atau mencari ciri khas dalam berkarya merupakan sebuah kegalauan yang sering dijumpai para pelaku seni, tapi menurut  R.E. Hartanto seharunys tidak perlu pelaku seni yang baru berkiprah 3 sampai 5 tahun sudah galau menentukan ciri khas dalam berkarya, karena proses penentuan ciri khas dalam berkarya membutuhkan proses dan waktu yang sangat panjang, minimal 10 tahun lah, apalagi mahasiswa seni yang baru aja kuliah udah pusing untuk menentukan ciri khas karya nya.

Menurut beliau, terdapat 2 tipe seniman, ada yang dari awal sampai mati melakukan dan menghasilkan 1 ciri khas dalam karya nya, dan ada seniman yang sering mengubah ciri khas nya.  Seniman tipe pertama keuntungannya adalah dia memiliki karya-karya yang sudah tentu berbeda dari yang lain, tetapi kekurangannya adalah akan datang suatu titik dimana dia sendiri atau penikmat karya nya berada di titik jenuh akan karya-karyanya. Sedangkan keuntungan seniman tipe kedua, dia berkesempatan untuk terus mengeksplorasi dirinya dengan tidak terikat dengan keharusan memegang ciri khas, tetapi kekurangannya adalah kenyataannya banyak para kolektor seni berpikir

“Lah kok karyanya berubah-ubah? seperti belum menemukan jati diri saja”

Apabila sudah begini, kita harus menentukan mau menjadi seniman yang mana. Sebagai apa kita memposisikan kegiatan kita berkarya? Sebagai satu-satunya penghasil rezeki kah? atau sebagai pemuas diri secara emosinal? Coba jujurlah pada diri sendiri, jangan sampai sebenarnya kita tipe seniman ke 2 tapi terpaksa menjadi seniman tipe 1 padahal diri kita terluka, lalu membohongi diri sendiri supaya karya nya laku. Yang perlu direnungkan adalah

“Bagi saya, berkarya itu perlu dilakukan? atau ingin dilakukan?”

Opini saya pribadi yang pernah bekerja di suatu perusahaan (bagi perusahaan sudah barang tentu karya adalah sebagai sumber rezeki), mengenai 2 tipe seniman akan ciri khas karyanya, sebetulya yang dikerjakan selama ini oleh perusahaan-perusahan seperti perusahaan di bidang desain produk misalnya, mereka selalu mengutamakan tipe seniman yang ke 1, perusahaan ditutut memilki satu benang merah akan produk-produknya sehinga membangun brand yang kuat dan dianggap otentik. Dan mungkin karena inilah dari masa ke masa perusahaan selalu mencari desainer yang style nya tidak jauh berbeda dengan menghasilkan karya-karya yang tidak terlalu eksploratif, hmmm atau mungkin eksploratif sih, tapi berbatas.

Apabila melihat idealnya, sebuah profesi adalah berkarir di bidang yang disukai, yang mengasilkan uang tidak sekedar pemenuh kebutuhan tetapi juga berlimpah, serta membuat kita diakui menjadi ‘somebody’, itu idealnya, tapi apabila dihadapkan dengan realita nya tentu sulit untuk mendapatkan keidealan tersebut. Pada sore itu pembicara memberikan contoh kasus dengan pengalamannya berkarir sebagai pelaku seni, beliau merupakan tipe seniman ke2, yang bosan dengan sebuah ciri khas tertentu dalam karyanya, sehingga ia mengubah style nya, sampai-sampai para kolektor seni tidak mau membeli karyanya. Dan tau apa reaksi beliau? Beliau tetap mengubah style nya, karena hanya dengan begitu beliau merasa puas, karena bagi beliau berkarya itu sesuatu yang ingin dilakukan. Lalu dari mana beliau mendapatkan uang? Beliau berprofesi juga sebagai dosen dan pengajar seni rupa, nah dari situlah katanya beliau mencari rezeki. Pesan dari R.E. Hartanto,

“Apabila kita termasuk tipe seniman yang ke 2, pandailah mencari sumber rezeki dari pintu lain.”

Pernah pada suatu hari, seseorang berumur 36 tahun curhat pada beliau, seseorang tersebut adalah seorang karyawan di sebuah perusahaan, gaji nya besar, tapi dia sedang megalami krisis sosial di kantornya, sedang ada masalah dengan rekan-rekannya, lalu katanya dia ingin resign saja dan beralih profesi menjadi pelaku seni profesional. Dan R.E. Hartanto menjawabnya, jangan resign! kamu tahu kesulitan apa yang akan ditemui ketika menjadi pelaku seni profesional? Kamu akan merasakan sesuatu yang disukai menjadi sesuatu yang harus dikerjakan karena tuntutan profesionalitas. Tantangan menjadi pelaku seni profesional tidak lebih mudah dibanding dengan menjadi seorang analis keuangan profesional, atau apapun itu keprofesiannya. Karena apabila berbicara tentang kreatifitas itu merupakan ranah ketidakpastian, dan karena possibility is a creativity.

Apabila sudah terlanjur mencintai karir sebagai pelaku seni, yang perlu diingat ketika menghasilkan karya adalah, apabila kegagalan datang menghampiri, teruslah mencoba dengan mengeksplorasi input dan proses berkaryanya, dan apabila sudah menjadi sebuah karya, maka hargailah. Jangan sampai stagnan, dan tidak menghasilkan karya apa-apa. Kita harus ingat bahwa kegelisahan itu harus ada, tapi harus dikelola, atau mungkin hanya dibutuhkan pergantian sudut pandang kita memandang sebuah masalah. Yang paling penting adalah,

harus tahu tujuan, dan buatlah titik-titik pencapaian, serta kenali lah apa yang menjadi penghambat  dalam berkarya

Mantep banget ga tuh materi yang disampaikan  R.E. Hartanto (Tanto) dan Doktor Afra Hafny Noer, beruntung banget saya bisa hadir langsung ke acara tersebut, dan tahu kah kalian, ini GRATIS, terimakasih Tobucil sudah mengadakan discuss sharing ini.

Bagi kamu yang mau mengetahui sesi ‘renungan diri’ oleh Doktor Afra Hafny Noer dengan hanya beberapa pertanyaan, ini akan sangat membantu kita mengenali diri sendiri dan mengetahui apa yang baik dan apa yang harus dihindari dalam berkarya, kamu bisa melanjutkan membaca di postingan berikutnya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Dapatkan kabar tebaru dari kami

Kami akan memberitahu kamu apabila ada hal yang menarik yang sedang kami kerjakan