Pasca Resign Demi Anak

Cerita dimulai pada bulan Maret 2017. Singkat cerita saya dan suami sudah sepakat bulat, saya resign dari kantor, agar lebih banyak waktu bersama Kinan,anak kami yang pada saat itu berusia 11 bulan.

Kondisinya saat itu kami tidak menemukan pengasuh/daycare yang cocok untuk Kinan, alhasil Kinan selama 8 bulan(3 bulan pertama masih tinggal dengan saya karena jatah cuti pasca melahirkan) tinggal bersama mertua/mamah (gantian) di luar kota. Saat itu saya dan suami tinggal di Bekasi. Sedih ya kan…. patah hati dong.. anak pertama yang masih bayi harus terpisah jauh beratus ratus kilometer dengan kita.

“Dengan ini saya mengerti betul tujuan saya resign sangat lah mulia. untuk mengasuh dan mendidik anak sebagaimana peran saya yang paling primer.”

Tapi, apa yang dirasakan setelah resign sangatlah tidak seindah kalimat di atas.

Butuh kurang lebih 4-5 bulan saya bergalau galau bersedih sedih sedikit ada penyesalan saya resign dari pekerjaan. Walaupun saat itu saya sudah mulai merintis offline dan online store saya ini.

Yang dirasakan saat itu saya sedih, tidak percaya diri, tidak nyaman, merasa tidak produktif, dan negative mood lainnya. Hal ini mungkin dikarenakan yang biasa saya tiap hari berias untuk ke kantor, sekarang keseringan hanya di rumah, cuma pakai pelembab muka dan lipbalm. Yang biasa setiap pulang kerja sering nongkrong di cafe/ mall, sekarang hanya di rumah. Yang terbiasa bebas banget untuk jajan jajan online shop, sekarang harus minta dulu jatah jajan ke suami.

Foto late New Year Party sama teman-teman kantor

inhale exhale

Sangat bersyukur punya suami yang sangat sabar dan mau mengerti gejolak emosi dan mood mamah muda galau labil ini… day by day... dia selalu mengingatkan bahwa saya adalah individu yang hebat. Yang sangat pantas untuk memaksimalkan peran posisi potensi saya ini. Memainkan peran sebagai ibu, dan potensi yang terlalu lama terpendam untuk bergelut dengan handmade things, karena terlalu lama kerja kantoran (total ngantor 3 tahunan).

Barulah di bulan ke 6 pasca resign. Saya baru menikmati dan bersyukur betul dengan apa yang telah saya lakukan saat ini. menikmati setiap pagi membuka mata dan ada anak di samping saya… Indahnya bisa mulai bikin bikinan craft yang lucu-lucu, menikmati indah nya jalan-jalan ke tempat wisata pada weekdays jadi gausah desek-desekan kaya waktu weekend. Enaknya saya yang sekarang tinggal (sementara karena ngurusin offline store di kota mamah mertua tinggal) bersama mamah / ibu mertua jadi gausah mikirin kerjaan rumah sendirian, ga usah repot masak (😜).

Ini lah lika liku mamah muda… besar keinginan untuk selalu produktif dan bekerja, tapi ga mau kehilangan momen perkembangan buah hati.

Yang jelas. Apapun kondisinya, kita harus selalu bersyukur dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Karena hari ini adalah buah dari pilihan kita di masa lalu.

Semangat para mamah muda!

6 thoughts on “Pasca Resign Demi Anak

  1. Ketika pertama kali resign pun saya sempat galau. Pengen kerja lagi. Untungnya lama keamaan betah juga di rumah 🙂

    1. Alhamdulillah ya. Tapi memang membutuhkan komitmen yang kuat agar tidak kembali kerja 😊

  2. Aku pernah rasain hal yang sama mba.. Ga pede, karena status cuma di rumah..buat apa kuliah..tapi akhirnya bisa bersyukur.

    1. Pada akhirnya… Yang kita butuhkan hanyalah waktu ya mba… Toss mba ✋

  3. Wah, kebalikan nih mbak! anak-anak sekarang mau sekolah, mama nya udah huntiing-hunting kerjaan. 6 tahun hamil-menyusui-hamil-menyusui lagi kayaknya udah cukup. hahahaha. pingin tahu dunia luar tapi masih galau juga. jadi ambil part time an lah. ^^

    1. Mungkin banget nih Mba suatu saat ketika anak anak saya pun sudah usia sekolah dan jadi ga ada temen di rumah saya pun kaya Mba… Cari kesibukan di luar… Semangat Mbaa 😃

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *